Kamis, 02 Juli 2020

SINOPSIS IT'S OKAY TO NOT BE OKAY EPISODE 1 | PART 2



Lee Sang-In : “Halo?”

Moon Young : “Mode pengeras suara.” (CEO langsung mengaktifkan mode pengeras suara, dan perawat RSJ OK Nam Joo-ri langsung berbicara)

Nam Joo-ri : “Halo? Pak Lee. Ini Nam Joo-ri, perawat di Rumah Sakit Jiwa OK. Aku tak bisa menghubungimu. Kau juga tak membalas pesanku. Apa kau mendengarku?”

Lee Sang-In : “Sekarang aku agak sibuk…...”

Nam Joo-ri : “Seperti yang sudah disampaikan, tanggal operasi Pak Dae-hwan (Ayah Moon Young) sudah ditentukan. Mengenai surat persetujuan operasi. Sampai kapan kami harus menunggu? Jika kau terus menghindari panggilanku, ini artinya kau ingin membunuh pasien.”

Moon Young : “Go Dae-hwan Bagiku dia sudah mati. Kenapa terus menyelamatkan orang yang sudah mati? Apa kau Tuhan?”

Nam Joo-ri : “Apa?”

Moon Young : “Joo-ri. Jika kau begitu peduli dengannya, kau saja yang datang ke sini.”

Perawat Nam Joo-ri langsung menutup teleponnya, dia keluar dari ruangan tempatnya menelepon, dan duduk di meja perawat depan sambil menghela nafas, disana juga ada Seon Byul rekan kerja Joo-ri sekaligus sahabatnya

Seon Byul : “Kenapa? Apa katanya?”

Nam Joo-ri : “Dia mau aku mendatanginya.”

Seon Byul : “Apa wanita itu sudah gila?” (perawat senior Park Haeng-Ja datang menghampiri)

Park Haeng-Ja : “Jika tidak waras, seharusnya datang ke sini.”

Seon Byul : “Bu Park.”

Park Haeng-Ja : “Ceritaka riwayat kesehatannya.” (Nam Joo-ri mengambil berkas riwayat kesehatan pasien dan menyerhkannya kepada perawat Senior, Bu Park Langsung mengambil dan melihatnya)

Nam Joo-ri : “Pasien demensia di kamar 203.”

Park Haeng-Ja : “Pak Go Dae-hwan?”

Nam Joo-ri : “Ya, dia butuh operasi pengangkatan glioblastoma secepatnya, tapi….”

Park Haeng-Ja : “Walinya tidak peduli, kan?” (Nam Joo-ri mengangguk) “Dia adalah pasien terlama di rumah sakit ini. Wali tak pernah datang berkunjung ataupun meninggalkan pesan. Ini artinya pasien sudah diabaikan. Daripada terus menghubungi wali yang tak bertanggung jawab itu, kenapa tak datangi langsung saja orangnya, untuk menyelamatkan pasien?”

Seon-Byul : “Apa? Apa perlu sampai seperti itu?”

Park Haeng-Ja : “Kau pasti melakukannya. Aku tahu kau professional.” (sambil menyerahkan berkas riwayat kesehatan pasien kepada Nam Joo-ri)

Nam Joo-ri : “Jika kau memberiku libur dua hari, aku akan datang sendiri.”

Park Haeng-Ja : “Kenpa dua hari? Apa kekasihmu ada di Seoul?” (Nam Joo-ri geleng-geleng) “Umm, Sepertinya benar.”

Seon Byul : “Joo-ri. Kau sudah punya pacar?”

Nam Joo-ri : “Tidak. Kalau begitu, aku segera berangkat.”

Park Haeng-Ja : “Aku yakin dia sudah punya pacar.” Joo-ri mendengar itu dan langsung berlari)

Seon Byul : “Pengkhianat.”

Nam Joo-ri sedang berada di kamar pasien dan membuka jendela. Ia menghampiri pasien Go Dae-hwan (Ayah Moon Young), Joo-ri berjongkok di depan Go Dae-hwan dan memegang tangannya, Goo Dae-hwan sedang duduk di kursi roda di samping tempat tidur nya.

Nam Joo-ri : “Sepertinya anakmu tidak bisa menjenguk.” (Go Dae hwan melihat kea rah Joo-ri, dan berusaha untuk berbicara)

Go Dae-hwan : “Tidak boleh…”

Nam Joo-ri : “Ada apa?” (Nam Joo-ri bangun hendak keluar, tapi Go Dae-hwan segera memegang tangan Joo-ri)

Go Dae-hwan : “Tidak boleh!” “Mati.” “Jika dia datang…” (Go Dae-hwan berhalusinasi melihat Joo-ri sebagai Moon Young dan mencengkeram erat tangan Joo-ri, Joo-ri melotot kaget.)

Di tempat istirahat di dalam RSJ, Kang Tae sedang berdiri memandangi poster Moon Young yang akan datang ke RSJ OK), dan teman perawat laki-laki menghampirinya sambil membawa 2 cangkir kopi)

Perawat laki-laki : “Kang Tae.” ( meberikan satu cangkir kopi kepada Kang Tae)

Kang Tae : “Ya?”

Perawat laki-laki : “Kudengar kau dimuntahi pasien?”

Kang Tae : “Aku kena tampar juga”

Perawat laki-laki : “Astaga. Disaat seperti ini seharusnya kau lebih berhati-hati.”

Kang Tae : “Park Seung-cheol yang ada di ruang isolasi akan diserahkan polisi” (Ini Kang Tae membicarakan pasien laki-laki yang dibawa oleh petugas dan diikat di ruang isolasi)

Perawat laki-laki : “Aku tahu. Biar aku saja yang memberikannya.” (Kang Tae mengangguk) “Kami sempat bertaruh di acara makan malam kemarin.”

Kang Tae : “Bertaruh?”

Perawat laki-laki : “Seperti belalang yang berterbangan, kenapa Kang Tae selalu pindah rumah sakit tiap tahunnya? Kami bertaruh untuk itu.” “ Jawaban pertama, kau melarikan diri dari penagih utang. Jawaban kedua, kau melakukan kesalahan dan menyamar untuk menghindari polisi. Jawaban ketiga, kau dipecat karena selalu menggoda semua perawat dan pasien wanita.“

Kang Tae melihat ke arah perawat laki-laki itu

Kang Tae : “Kau memilih yang mana?”

Perawat laki-laki : “Aku pilih. Yang ketiga. Mana jawaban yang benar?”

Kang Tae : “Jawaban keempat.” (Kang Tae melihat ke arah perawat laki-laki itu, dan memegang pundaknya seperti meraba, dan berkata)  “Pria” (Perawat laki-laki itu terkejut)

Perawat laki-laki : “A…a…a … Kang Tae. Astaga. Kopi ini enak sekali.” (mereka pun sama sama minum kopi)

Di rumah, Kakak Kang Tae, yaitu Sang Tae sedang menggambar di lantai, ia menggambar di dikertas buku dongeng di ditulis oleh Moon Young.  Ia menggambar sambil mendengarkan kartun di TV, dan mengikuti kata kata yang terdengar di TV, dan saat tengah asik menggambar, Hp Sang Tae berbunyi, dan itu telepon dari Kang Tae. Sang Tae langsung meletakkan Hp nya di telinga tanpa berkata apapun. Kang Tae menelepon Sang Tae di taman rumah sakit.)

Kang Tae : “Sudah makan?”

Sang Tae : “Aku makan jamppong”

Kang Tae : “Lagi? Jangan makan mi terus. Makanlah lauk yang sudah kubelikan. Sedang apa?”

Sang Tae : “Menggambar.”

Kang Tae : “Kau menggambar di buku wanita itu lagi.”

Sang Tae : “Bukan *wanita itu*, Dia penulis Go Moon Young” (Kang Tae tersenyum)

Kang Tae : “Ya, Go Moon Young. Katanya dia akan mengunjungi RSJ.”  (Sang Tae langsung menghentikan aktivitas menggambarnya) “Dia akan mendongeng di bangsal anak.” (Tidak ada jawaban dari Sang Tae) “Kakak?”

Sang Tae : “Aku akan berangkat sekarang juga. Naik bus biru nomor 243, turun di pertigaan Jayang, sambung naik bus hijau nomor 5413.” (Kang Tae buru-buru bersiap memakai jaket dan mengambil tasnya)

Kang Tae : “Kakak Tunggu” (dengan suara pelan)

Sang Tae : “Lalu turn di RS Universitas Myungsung…”

Kang Tae : “Moon Sang Tae!” (kali ini berteriak, hingga pasien yang ada di taman menoleh ke arah Kang Tae, dan Sang Tae pun ikut berhenti) “Coba tarik nafas tiga kali.” (Sang Tae pun mengikutinya, ia menarik nafas tiga kali) “Dengarkan baik-baik. Walaupun kau berangkat sekarang sudah terlambat. Lagi pula hanya anak-anak yang bisa masuk ke sana. Kau bukan anak kecil, kan?”

Sang Tae : “Moon Sang Tae. Umur 35 tahun. Lahir tahun 1984, Shio tikus. Walaupun terlihat muda, aku bukan anak kecil.”

Kang Tae : “Benar. Kau sudah dewasa. Sebagai gantinya, aku akan coba meminta tanda tangannya. Bertemu hanya sekali, tapi tanda tangan bisa disimpan. Mana yang lebih baik?”

Sang Tae : “Tanda tangan.” (Sang Tae langsung berbalik, menaruh jaket dan tasnya dan kembali keposisi menggambar seperti sebelumnya)

Kang Tae : “Kau lebih suka aku atau penulis Go? (Sang Tae sudah menutup teleponnya) “Halo? Sang Tae?”

Di aula Rumah Sakit CEO Lee Sang-In dan karyawan lain sedang mempersiapkan acara pembacaan dongen Moon Young. Disana Lee Sang-in sedang berbicara dengan Art director Yoo Seung-Jae yang merangkap jadi pesuruh *Hahaha*

Lee Sang In : “Aku tak mau suasana hatinya rusak. Aku sengaja tak memberi tahu dia. Jika acara ini selesai dengan baik, aku berencana menyeretnya ke rumah sakit. Sial. Semuanya berantakan. Perasaan ku tidak enak.”

Yoo Seung-Jae : “Kenapa Penulis Go begitu membenci ayahnya?”

Lee Sang In : “Dia membenci semua orang. Jangan Tanya alasannya. Dia seperti itu sejak lahir. Dengan begitu kau bisa hidup panjang. Astaga, dia pergi kemana? Sebentar lagi acaranya dimulai. (CEO berlari keluar dari aula)

Di taman rumah sakit, terlihat Moon Young sedang duduk sambil merokok, dan mencabuti kelopak bunga. Keluarga pasien dan pasien melihat ke arah Moon Young.

Kang Tae : “Permisi” (Kang Tae berbicara kepada Moon Young danmenghampirinya, karena Moon Young tidak menggubrisnya dan masih tetap mencabuti kelopak bunga) “Tolong rokoknya.”

Moon Young : “Aku hanya punya satu.”

Kang Tae : “Aku tidak minta rokok. Tolong matikan.”

Moon Young : “Aku baru saja mulai merokok.”

Kang Tae : “Ini Kawasan bebas rokok. Cepat matikan.” (Moon Young tidak menggubris dan menghisap kembali rokoknya. Moon Young bangun dari tempat duduk dan membuka kacamata hitamnya, kemudian berdiri berhadapan dengan Kang Tae. Mereka saling menatap.)

Moon Young : “Apa kau percaya ddengan takdir?”

Kang Tae : “Apa katamu?”

Moon Young : “Jangan pura-pura tak dengar.” (Kang Tae mencoba meraaih rokok di tangan Moon Young, tapi tangan Moon Youn berhasil menghidar) “Siapa peduli dengan takdir?” “Saat dibutuhkan, kau muncul di hadapanku.” (Moon Young menaburkan ampas rokok ke dalam cangkir kopi yang dibawa Kang Tae, dan mencelupkan rokoknya disana.) “Ini adalah taktir.”

Moon Young mengambil tasnya dikursi taman dan pergi meninggalkan Kang Tae. Kang Tae meremas kopinya. Dan selanjutnya ada suara teriakan yang sangat memekik telinga. Itu adalah suara Moon Young yang sedang membacakan dongeng pada anak-anak di aula rumah sakit, ia sedang memperagakan teriakan tokoh anak kecil di dalam dongengnya yang sedang berteriak. Para penonton, orang tua dan anak berkomentar “Kencang sekali suaranya.” Moon Young merasa tenggorokannya serak, ia pun minum air. Diantara bangku penonton terlihat anak dari pasien yang sebelumnya dibawa oleh petugas dan diikat di ruang isolasi, anak itu Go-eun.

Lee Sang In : “Sangat nyata kan? Dia juga jago berakting” (CEO sedang berbicara dengan seseorang laki-laki di sampingnya, sedangkan art director Yoo seung jae merekam Moon Young yang sedang menceritakan dongengnya.

Moon Young melanjutkan membaca dongeng

Moon Young : “Anak lelaki itu terbangun lagi dari mimpi buruk. Kenangan buruk dari masal lalu yang ingin dilupakan muncul kembali dalam mimpinya tiap malam dan terus mengganggu anak lelaki itu. Dia ketakutan untuk tidur. Suatu hari, dia pergi mengunjungi penyihir dan memohon kepadanya. Penyihir. Tolong hapuskan semua kenangan buruk di kepalaku, agar aku tidak bermimpi buruk lagi. Sebagai gantinya, aku akan menuruti apa pun keinginanmu.” (si anak Go-eun, terus memperhatikan Moon Young yang sedang membacakan dongeng)

Di lorong rumah sakit terlihat pasien yang sebelumnya dibawa oleh petugas, dan diikat di ruang isolasi, kini berkeliaran dan berteriak memanggil anaknya “Go-eun!”, Ya dia adalah ayah Go-eun, anak yang sedang diaula dan sedang mendengarkan dongeng. Pasien isolasi itu melihat pasien anak yang sedang berjalan dengan perawat, Pasien isolasi itu dan mengira itu anaknya, dan ternyata bukan.  “Go-eun dimana?” Pasien isolasi itu membuka satu persatu kamar pasien untuk mencari anaknya. “Go-eun. Kau di mana?”.

Di meja perawat, terlihat perawat sedang melihat monitor yang menampilkan CCTV kamar isolasi, dan di ruang isolasi itu tidak ada pasien. Ia pun memberi informasi kepada petugas lain “Burung camar 777. Ganti.” Pasien di ruang isolasi itu kabur. Kang Tae terlihat berlari. Dan bertanya kepada perawat laki-laki yang sebelumnya dia ajak minnum kopi bersama.

Kang Tae : “ Kau”

Perawat laki-laki : “Maaf. Dia bilang tak nyaman”

Kang Tae : “Tali pengekang?”

Perawat laki-laki : “Aku lupa” (*bener bner kesel banget sama perawat ini, oiya dia ini juniornya Kang Tae*)

Kang Tae melihat keruang tindakan atau tempat penyimpanan alat-alat. Lalu ia mengambil infus set. Merobek plastiknya dan memasukkan infus set ke dalam sakunya. Kemudian segera berlari mencari pasien isolasi yang kabur itu.

Di aula Rumah sakit, Moon Young masih menceritakan dongengnya.

Moon Young : “Seiring waktu, anak lelaki ittu tumbuh dewasa. Walaupun tak bermimpi buruk lagi, dia tidak bahagia sedikit pun.”

Daan pasien isolasi itu tiba di aula Rumah Sakit, ia membuat keributan dengan mengecek satu satu anak anak untuk menemukan anaknya sambil memanggil-mangil anaknya. “Go-eun”. Keributan itu dilihat oleh Moon Young, dia sempat berhenti sejenak membacakan dongeng, namun kemudian melanjutkannya lagi.

Moon Young : “Suatu malam, bulan darah memenuhi langit, dan penyihir muncul kembali di hadapannya untuk megih janji anak lelaki itu. Dengan penuh kebencian, dia berteriak kepada penyihir *Semua Kenangan Buruk Ku Lenyap, tapi kenapa…. Kenapa aku tidak bahagia?* Sesuai dengan perjanjian, penyihir mengambil jiwa anak itu dan berkata. ….”

Tiba-tiba lampu aula di nyalakan, semua penonton panik “Ada apa ini?” “Ibu!”

Moon Young : “Apa yang terjadi?”

Dari pihak rumah sakit pun masuk ke aula dan memberikan pengumuman

Petugas RS : “Mohon maaf. Karena masalah internal, acara mendongeng harus dihentikan. Para petugas medis dan wali pasien segera bawa anak-anak ke bangsal.”

Para penonton bingung sebenarnya apa yang terjadi, dan pasien isolasi masih mencari cari anaknya di antara penonton. Go-eun masih duduk ditempatnya, sedangkan kursi kursi lain sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Dari atas panggung Moon Young berbicara. “Masih belum selesai. Anak-anak masih belum selesai.” Tapi penonton tidak ada yang mendengarnya para penonton buru-buru pergi karena takut dan bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saat Go-eun akan bangun dari kursinya, tangan nya dicengkram oleh pasien isolasi itu yang tak lain adalah ayahnya, Ayahnya langsung menggendong Go-eun masuk ke dalam ruang penyimpanan alat-alat yang digunakan saat pentas di panggung. Sedangkan Moon Young sedang marah pada pihak acara. Didalam ruang penyimpanan alat

Go eun : “Ayah jangan begini. Aku takut”

Ayah Go-eun : “Dengarkan baik-baik. Jika kita tertangkap, ayah akan terjebak di rumah sakit jiwa, dank au akan masuk panti asuhan. Apa kau bisa hidup terpisah dari ayah?” (Tiba-tiba Moon Young masuk ke ruang penyipanan itu)

Go eun : “Aku ingin hidup. Aku tidak mau mati.”

Ayah Go-eun : “Ayah sudah pernah bilang. Anak kecil tak bisa hidup sendiri. Dari pada kita hidup terpisah. Lebih baik kita ati berdua.)

Moon Young : “Astaga… Omong kosong. Wahh.. aku sudah lama tak bertemu orang yang lebih hina dari hewan. Lihat wajah memuakkan itu.”

Ayah Go-eun : “Siapa kau? Kau inginmati?”

Lanjut Part 3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALGORITMA INITIAL ASSESSMENT TRAUMA

Jika anda menemukan pasien trauma, yang harus anda lakukan adalah : 3A : AMANKAN DIRI (APD) AMANKAN LINGKUNGAN AMANKAN PASIEN Cek Kesadaran ...