Lee Sang-In : “Halo?”
Moon Young : “Mode pengeras suara.” (CEO langsung
mengaktifkan mode pengeras suara, dan perawat RSJ OK Nam Joo-ri langsung
berbicara)
Nam Joo-ri : “Halo? Pak Lee. Ini Nam Joo-ri, perawat di Rumah
Sakit Jiwa OK. Aku tak bisa menghubungimu. Kau juga tak membalas pesanku. Apa
kau mendengarku?”
Lee Sang-In : “Sekarang aku agak sibuk…...”
Nam Joo-ri : “Seperti yang sudah disampaikan, tanggal operasi
Pak Dae-hwan (Ayah Moon Young) sudah ditentukan. Mengenai surat persetujuan operasi.
Sampai kapan kami harus menunggu? Jika kau terus menghindari panggilanku, ini
artinya kau ingin membunuh pasien.”
Moon Young : “Go Dae-hwan Bagiku dia sudah mati. Kenapa terus
menyelamatkan orang yang sudah mati? Apa kau Tuhan?”
Nam Joo-ri : “Apa?”
Moon Young : “Joo-ri. Jika kau begitu peduli dengannya, kau
saja yang datang ke sini.”
Perawat Nam Joo-ri langsung
menutup teleponnya, dia keluar dari ruangan tempatnya menelepon, dan duduk di
meja perawat depan sambil menghela nafas, disana juga ada Seon Byul rekan kerja
Joo-ri sekaligus sahabatnya
Seon Byul : “Kenapa? Apa katanya?”
Nam Joo-ri : “Dia mau aku mendatanginya.”
Seon Byul : “Apa wanita itu sudah gila?” (perawat senior
Park Haeng-Ja datang menghampiri)
Park Haeng-Ja : “Jika tidak waras, seharusnya datang ke
sini.”
Seon Byul : “Bu Park.”
Park Haeng-Ja : “Ceritaka riwayat kesehatannya.” (Nam Joo-ri
mengambil berkas riwayat kesehatan pasien dan menyerhkannya kepada perawat
Senior, Bu Park Langsung mengambil dan melihatnya)
Nam Joo-ri : “Pasien demensia di kamar 203.”
Park Haeng-Ja : “Pak Go Dae-hwan?”
Nam Joo-ri : “Ya, dia butuh operasi pengangkatan glioblastoma
secepatnya, tapi….”
Park Haeng-Ja : “Walinya tidak peduli, kan?” (Nam Joo-ri
mengangguk) “Dia adalah pasien terlama di rumah sakit ini. Wali tak pernah
datang berkunjung ataupun meninggalkan pesan. Ini artinya pasien sudah
diabaikan. Daripada terus menghubungi wali yang tak bertanggung jawab itu,
kenapa tak datangi langsung saja orangnya, untuk menyelamatkan pasien?”
Seon-Byul : “Apa? Apa perlu sampai seperti itu?”
Park Haeng-Ja : “Kau pasti melakukannya. Aku tahu kau
professional.” (sambil menyerahkan berkas riwayat kesehatan pasien kepada Nam Joo-ri)
Nam Joo-ri : “Jika kau memberiku libur dua hari, aku akan
datang sendiri.”
Park Haeng-Ja : “Kenpa dua hari? Apa kekasihmu ada di Seoul?”
(Nam Joo-ri geleng-geleng) “Umm, Sepertinya benar.”
Seon Byul : “Joo-ri. Kau sudah punya pacar?”
Nam Joo-ri : “Tidak. Kalau begitu, aku segera berangkat.”
Park Haeng-Ja : “Aku yakin dia sudah punya pacar.” Joo-ri
mendengar itu dan langsung berlari)
Seon Byul : “Pengkhianat.”
Nam Joo-ri sedang berada di kamar
pasien dan membuka jendela. Ia menghampiri pasien Go Dae-hwan (Ayah Moon
Young), Joo-ri berjongkok di depan Go Dae-hwan dan memegang tangannya, Goo
Dae-hwan sedang duduk di kursi roda di samping tempat tidur nya.
Nam Joo-ri : “Sepertinya anakmu tidak bisa menjenguk.” (Go Dae hwan
melihat kea rah Joo-ri, dan berusaha untuk berbicara)
Go Dae-hwan : “Tidak boleh…”
Nam Joo-ri : “Ada apa?” (Nam Joo-ri bangun hendak keluar,
tapi Go Dae-hwan segera memegang tangan Joo-ri)
Go Dae-hwan : “Tidak boleh!” “Mati.” “Jika dia datang…” (Go Dae-hwan
berhalusinasi melihat Joo-ri sebagai Moon Young dan mencengkeram erat tangan
Joo-ri, Joo-ri melotot kaget.)
Di tempat istirahat di dalam RSJ,
Kang Tae sedang berdiri memandangi poster Moon Young yang akan datang ke RSJ
OK), dan teman perawat laki-laki menghampirinya sambil membawa 2 cangkir kopi)
Perawat laki-laki : “Kang Tae.” ( meberikan
satu cangkir kopi kepada Kang Tae)
Kang Tae : “Ya?”
Perawat laki-laki : “Kudengar kau dimuntahi pasien?”
Kang Tae : “Aku kena tampar juga”
Perawat laki-laki : “Astaga. Disaat seperti ini seharusnya
kau lebih berhati-hati.”
Kang Tae : “Park Seung-cheol yang ada di ruang isolasi akan
diserahkan polisi” (Ini Kang Tae membicarakan pasien laki-laki yang dibawa oleh petugas
dan diikat di ruang isolasi)
Perawat laki-laki : “Aku tahu. Biar aku saja yang
memberikannya.” (Kang Tae mengangguk) “Kami sempat bertaruh di acara makan malam
kemarin.”
Kang Tae : “Bertaruh?”
Perawat laki-laki : “Seperti belalang yang berterbangan,
kenapa Kang Tae selalu pindah rumah sakit tiap tahunnya? Kami bertaruh untuk
itu.” “ Jawaban pertama, kau melarikan diri dari penagih utang. Jawaban kedua,
kau melakukan kesalahan dan menyamar untuk menghindari polisi. Jawaban ketiga,
kau dipecat karena selalu menggoda semua perawat dan pasien wanita.“
Kang Tae melihat ke arah perawat
laki-laki itu
Kang Tae : “Kau memilih yang mana?”
Perawat laki-laki : “Aku pilih. Yang ketiga. Mana jawaban
yang benar?”
Kang Tae : “Jawaban keempat.” (Kang Tae melihat
ke arah perawat laki-laki itu, dan memegang pundaknya seperti meraba, dan
berkata) “Pria” (Perawat
laki-laki itu terkejut)
Perawat laki-laki : “A…a…a … Kang Tae.
Astaga. Kopi ini enak sekali.” (mereka pun sama sama minum kopi)
Di rumah, Kakak
Kang Tae, yaitu Sang Tae sedang menggambar di lantai, ia menggambar di dikertas
buku dongeng di ditulis oleh Moon Young.
Ia menggambar sambil mendengarkan kartun di TV, dan mengikuti kata kata
yang terdengar di TV, dan saat tengah asik menggambar, Hp Sang Tae berbunyi,
dan itu telepon dari Kang Tae. Sang Tae langsung meletakkan Hp nya di telinga
tanpa berkata apapun. Kang Tae menelepon Sang Tae di taman rumah sakit.)
Kang Tae : “Sudah makan?”
Sang Tae : “Aku makan jamppong”
Kang Tae : “Lagi? Jangan makan mi terus.
Makanlah lauk yang sudah kubelikan. Sedang apa?”
Sang Tae : “Menggambar.”
Kang Tae : “Kau menggambar di buku wanita
itu lagi.”
Sang Tae : “Bukan *wanita itu*, Dia penulis
Go Moon Young” (Kang Tae tersenyum)
Kang Tae : “Ya, Go Moon Young. Katanya dia
akan mengunjungi RSJ.” (Sang
Tae langsung menghentikan aktivitas menggambarnya) “Dia akan mendongeng di
bangsal anak.” (Tidak ada jawaban dari Sang Tae) “Kakak?”
Sang Tae : “Aku akan berangkat sekarang
juga. Naik bus biru nomor 243, turun di pertigaan Jayang, sambung naik bus
hijau nomor 5413.” (Kang Tae buru-buru bersiap memakai jaket dan mengambil tasnya)
Kang Tae : “Kakak Tunggu” (dengan suara
pelan)
Sang Tae : “Lalu turn di RS Universitas
Myungsung…”
Kang Tae : “Moon Sang Tae!” (kali ini
berteriak, hingga pasien yang ada di taman menoleh ke arah Kang Tae, dan Sang
Tae pun ikut berhenti) “Coba tarik nafas tiga kali.” (Sang Tae pun
mengikutinya, ia menarik nafas tiga kali) “Dengarkan baik-baik. Walaupun kau
berangkat sekarang sudah terlambat. Lagi pula hanya anak-anak yang bisa masuk
ke sana. Kau bukan anak kecil, kan?”
Sang Tae : “Moon Sang Tae. Umur 35 tahun.
Lahir tahun 1984, Shio tikus. Walaupun terlihat muda, aku bukan anak kecil.”
Kang Tae : “Benar. Kau sudah dewasa.
Sebagai gantinya, aku akan coba meminta tanda tangannya. Bertemu hanya sekali,
tapi tanda tangan bisa disimpan. Mana yang lebih baik?”
Sang Tae : “Tanda tangan.” (Sang Tae
langsung berbalik, menaruh jaket dan tasnya dan kembali keposisi menggambar
seperti sebelumnya)
Kang Tae : “Kau lebih suka aku atau penulis
Go? (Sang Tae sudah menutup teleponnya) “Halo? Sang Tae?”
Di aula Rumah
Sakit CEO Lee Sang-In dan karyawan lain sedang mempersiapkan acara pembacaan
dongen Moon Young. Disana Lee Sang-in sedang berbicara dengan Art director Yoo
Seung-Jae yang merangkap jadi pesuruh *Hahaha*
Lee Sang In : “Aku tak mau suasana hatinya
rusak. Aku sengaja tak memberi tahu dia. Jika acara ini selesai dengan baik, aku
berencana menyeretnya ke rumah sakit. Sial. Semuanya berantakan. Perasaan ku
tidak enak.”
Yoo Seung-Jae : “Kenapa Penulis Go begitu
membenci ayahnya?”
Lee Sang In : “Dia membenci semua orang.
Jangan Tanya alasannya. Dia seperti itu sejak lahir. Dengan begitu kau bisa
hidup panjang. Astaga, dia pergi kemana? Sebentar lagi acaranya dimulai. (CEO berlari
keluar dari aula)
Di taman rumah
sakit, terlihat Moon Young sedang duduk sambil merokok, dan mencabuti kelopak
bunga. Keluarga pasien dan pasien melihat ke arah Moon Young.
Kang Tae : “Permisi” (Kang Tae
berbicara kepada Moon Young danmenghampirinya, karena Moon Young tidak
menggubrisnya dan masih tetap mencabuti kelopak bunga) “Tolong rokoknya.”
Moon Young : “Aku hanya punya satu.”
Kang Tae : “Aku tidak minta rokok. Tolong
matikan.”
Moon Young : “Aku baru saja mulai merokok.”
Kang Tae : “Ini Kawasan bebas rokok. Cepat
matikan.” (Moon Young tidak menggubris dan menghisap kembali rokoknya. Moon Young
bangun dari tempat duduk dan membuka kacamata hitamnya, kemudian berdiri
berhadapan dengan Kang Tae. Mereka saling menatap.)
Moon Young : “Apa kau percaya ddengan
takdir?”
Kang Tae : “Apa katamu?”
Moon Young : “Jangan pura-pura tak dengar.” (Kang Tae
mencoba meraaih rokok di tangan Moon Young, tapi tangan Moon Youn berhasil
menghidar) “Siapa peduli dengan takdir?” “Saat dibutuhkan, kau muncul di
hadapanku.” (Moon Young menaburkan ampas rokok ke dalam cangkir kopi yang
dibawa Kang Tae, dan mencelupkan rokoknya disana.) “Ini adalah taktir.”
Moon Young
mengambil tasnya dikursi taman dan pergi meninggalkan Kang Tae. Kang Tae
meremas kopinya. Dan selanjutnya ada suara teriakan yang sangat memekik
telinga. Itu adalah suara Moon Young yang sedang membacakan dongeng pada
anak-anak di aula rumah sakit, ia sedang memperagakan teriakan tokoh anak kecil
di dalam dongengnya yang sedang berteriak. Para penonton, orang tua dan anak
berkomentar “Kencang sekali suaranya.” Moon Young merasa tenggorokannya
serak, ia pun minum air. Diantara bangku penonton terlihat anak dari pasien
yang sebelumnya dibawa oleh petugas dan diikat di ruang isolasi, anak itu
Go-eun.
Lee Sang In : “Sangat nyata kan? Dia juga
jago berakting” (CEO sedang berbicara dengan seseorang laki-laki di sampingnya,
sedangkan art director Yoo seung jae merekam Moon Young yang sedang
menceritakan dongengnya.
Moon Young
melanjutkan membaca dongeng
Moon Young : “Anak lelaki itu terbangun lagi dari mimpi buruk.
Kenangan buruk dari masal lalu yang ingin dilupakan muncul kembali dalam
mimpinya tiap malam dan terus mengganggu anak lelaki itu. Dia ketakutan untuk
tidur. Suatu hari, dia pergi mengunjungi penyihir dan memohon kepadanya.
Penyihir. Tolong hapuskan semua kenangan buruk di kepalaku, agar aku tidak
bermimpi buruk lagi. Sebagai gantinya, aku akan menuruti apa pun keinginanmu.”
(si anak Go-eun, terus memperhatikan Moon Young yang sedang membacakan
dongeng)
Di lorong rumah
sakit terlihat pasien yang sebelumnya dibawa oleh petugas, dan diikat di ruang
isolasi, kini berkeliaran dan berteriak memanggil anaknya “Go-eun!”, Ya
dia adalah ayah Go-eun, anak yang sedang diaula dan sedang mendengarkan
dongeng. Pasien isolasi itu melihat pasien anak yang sedang berjalan dengan
perawat, Pasien isolasi itu dan mengira itu anaknya, dan ternyata bukan. “Go-eun dimana?” Pasien isolasi itu
membuka satu persatu kamar pasien untuk mencari anaknya. “Go-eun. Kau di
mana?”.
Di meja perawat,
terlihat perawat sedang melihat monitor yang menampilkan CCTV kamar isolasi,
dan di ruang isolasi itu tidak ada pasien. Ia pun memberi informasi kepada
petugas lain “Burung camar 777. Ganti.” Pasien di ruang isolasi itu
kabur. Kang Tae terlihat berlari. Dan bertanya kepada perawat laki-laki yang
sebelumnya dia ajak minnum kopi bersama.
Kang Tae : “ Kau”
Perawat laki-laki : “Maaf. Dia bilang tak
nyaman”
Kang Tae : “Tali pengekang?”
Perawat laki-laki : “Aku lupa” (*bener bner
kesel banget sama perawat ini, oiya dia ini juniornya Kang Tae*)
Kang Tae melihat
keruang tindakan atau tempat penyimpanan alat-alat. Lalu ia mengambil infus
set. Merobek plastiknya dan memasukkan infus set ke dalam sakunya. Kemudian
segera berlari mencari pasien isolasi yang kabur itu.
Di aula Rumah
sakit, Moon Young masih menceritakan dongengnya.
Moon Young : “Seiring waktu, anak lelaki ittu tumbuh dewasa. Walaupun
tak bermimpi buruk lagi, dia tidak bahagia sedikit pun.”
Daan pasien
isolasi itu tiba di aula Rumah Sakit, ia membuat keributan dengan mengecek satu
satu anak anak untuk menemukan anaknya sambil memanggil-mangil anaknya. “Go-eun”.
Keributan itu dilihat oleh Moon Young, dia sempat berhenti sejenak
membacakan dongeng, namun kemudian melanjutkannya lagi.
Moon Young : “Suatu malam, bulan darah memenuhi langit, dan penyihir
muncul kembali di hadapannya untuk megih janji anak lelaki itu. Dengan penuh
kebencian, dia berteriak kepada penyihir *Semua Kenangan Buruk Ku Lenyap, tapi
kenapa…. Kenapa aku tidak bahagia?* Sesuai dengan perjanjian, penyihir
mengambil jiwa anak itu dan berkata. ….”
Tiba-tiba lampu
aula di nyalakan, semua penonton panik “Ada apa ini?” “Ibu!”
Moon Young : “Apa yang terjadi?”
Dari pihak rumah
sakit pun masuk ke aula dan memberikan pengumuman
Petugas RS :
“Mohon maaf. Karena masalah internal, acara mendongeng harus dihentikan. Para
petugas medis dan wali pasien segera bawa anak-anak ke bangsal.”
Para penonton
bingung sebenarnya apa yang terjadi, dan pasien isolasi masih mencari cari
anaknya di antara penonton. Go-eun masih duduk ditempatnya, sedangkan kursi
kursi lain sudah kosong ditinggalkan penghuninya. Dari atas panggung Moon Young
berbicara. “Masih belum selesai. Anak-anak masih belum selesai.” Tapi penonton
tidak ada yang mendengarnya para penonton buru-buru pergi karena takut dan
bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi. Saat Go-eun akan bangun dari
kursinya, tangan nya dicengkram oleh pasien isolasi itu yang tak lain adalah
ayahnya, Ayahnya langsung menggendong Go-eun masuk ke dalam ruang penyimpanan
alat-alat yang digunakan saat pentas di panggung. Sedangkan Moon Young sedang
marah pada pihak acara. Didalam ruang penyimpanan alat
Go eun : “Ayah jangan begini. Aku takut”
Ayah Go-eun : “Dengarkan baik-baik. Jika
kita tertangkap, ayah akan terjebak di rumah sakit jiwa, dank au akan masuk
panti asuhan. Apa kau bisa hidup terpisah dari ayah?” (Tiba-tiba Moon
Young masuk ke ruang penyipanan itu)
Go eun : “Aku ingin hidup. Aku tidak mau
mati.”
Ayah Go-eun : “Ayah sudah pernah bilang.
Anak kecil tak bisa hidup sendiri. Dari pada kita hidup terpisah. Lebih baik
kita ati berdua.)
Moon Young : “Astaga… Omong kosong. Wahh..
aku sudah lama tak bertemu orang yang lebih hina dari hewan. Lihat wajah
memuakkan itu.”
Ayah Go-eun : “Siapa kau? Kau inginmati?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar